Anak Kehilangan Orangtua Bisa Alami Trauma, Ini Tanda dan Cara Mendampinginya

Anak Kehilangan Orangtua Bisa Alami Trauma, Ini Tanda dan Cara Mendampinginya

Anak Lagi Bersedih,Foto Istimewa

WARTAFLASH.COM,JAMBI – Kehilangan orangtua menjadi salah satu peristiwa paling berat dalam kehidupan seorang anak. Selain memicu kesedihan mendalam, kondisi ini juga dapat memengaruhi emosi, perilaku, hingga kesehatan fisik. Karena itu, keluarga memegang peran penting dalam mendampingi anak selama menjalani proses berduka.

Anak Menunjukkan Reaksi yang Berbeda

Setiap anak merespons kehilangan dengan cara yang berbeda. Mengacu pada informasi dari Raising Children, ada anak yang merasa sedih, marah, bingung, takut, bahkan menyalahkan dirinya sendiri setelah orangtuanya meninggal dunia.

Sebagian anak juga merasa khawatir akan kehilangan pengasuh atau anggota keluarga lain. Perasaan tersebut dapat memengaruhi sikap dan aktivitas mereka sehari-hari.

Reaksi yang sering muncul meliputi sering menangis, mudah marah, menghindari lingkungan sekitar, atau tetap meyakini orangtuanya akan kembali. Beberapa anak juga mengalami kemunduran perkembangan, misalnya kembali berbicara seperti saat berusia lebih muda.

Di sekolah, anak dapat mengalami penurunan prestasi belajar atau lebih sering bertanya tentang kematian. Ada pula yang menceritakan pengalaman tersebut secara spontan kepada orang lain sebagai bagian dari proses memahami kehilangan.

Perubahan Fisik Juga Perlu Diperhatikan

Masa berkabung tidak hanya memengaruhi kondisi emosional. Anak juga dapat mengalami sakit kepala, sakit perut, gangguan tidur, mimpi buruk, perubahan nafsu makan, hingga kecemasan.

Sebaliknya, ada anak yang tampak tidak menunjukkan reaksi apa pun. Kondisi tersebut tetap termasuk respons yang normal karena setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi duka.

Usia, tingkat perkembangan, pengalaman hidup, keyakinan tentang kematian, serta dukungan dari keluarga turut memengaruhi cara anak memahami kehilangan.

Apabila orangtua meninggal akibat kecelakaan, bencana, atau peristiwa traumatis lainnya, keluarga sebaiknya mempertimbangkan pendampingan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental agar anak memperoleh bantuan yang sesuai.

Sampaikan Kabar dengan Jujur dan Sederhana

Anggota keluarga terdekat sebaiknya menyampaikan kabar meninggalnya orangtua kepada anak sesegera mungkin. Pilih tempat yang tenang agar anak merasa aman saat menerima informasi tersebut.

Gunakan kalimat yang sederhana dan sesuai usia anak. Misalnya, jelaskan bahwa jantung ayah atau ibu telah berhenti bekerja sehingga tubuhnya tidak lagi dapat hidup.

Hindari menggunakan istilah seperti “tidur selamanya” atau “pergi jauh” karena anak dapat menafsirkan kalimat tersebut secara harfiah dan menjadi bingung.

Anak juga mungkin mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali. Jawablah dengan sabar karena mereka membutuhkan waktu untuk memahami makna kematian.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *