Gus Ipul Temui Warga Miskin di Kemensos, Aksi Berujung Dialog

Gus Ipul Temui Pendemo Warga Miskin di Kemensos, Ajak Dialog
WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Menteri Sosial Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menemui langsung ratusan warga yang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Aksi tersebut digelar Koalisi Warga Jakarta untuk Keadilan (KWJK). Massa memprotes pembaruan data desil yang dinilai berdampak terhadap akses warga miskin terhadap bantuan sosial dan perlindungan sosial.
Usai menggelar konferensi pers bersama Rektor Universitas Pertahanan, Gus Ipul dan Agus Jabo berjalan menuju arah massa. Kehadiran keduanya membuat suasana aksi berubah menjadi dialog.
Gus Ipul kemudian meminta koordinator lapangan aksi, Marlo, untuk tidak berteriak dan memilih berdiskusi secara langsung.
“Wes gak usah teriak-teriak, kita temuin. Kita dialog, ayo sini. Kamu berapa orang? Ayo sini ngobrol,” kata Gus Ipul kepada Marlo.
Gus Ipul bahkan merangkul Marlo yang telah berada di halaman kantor Kemensos. Momen tersebut di sambut positif oleh massa aksi.
“Hidup Menteri, hidup Gus Ipul,” ujar Marlo.
Warga Klaim Ribuan Orang Terancam Kehilangan Bansos
Perwakilan KWJK, Tegar Afriansah, mengatakan aksi tersebut merupakan puncak dari keresahan warga yang sebelumnya di himpun melalui Posko Advokasi KWJK.
Menurutnya, posko tersebut menerima dan memverifikasi berbagai aduan warga di 21 kecamatan dan 49 kelurahan yang tersebar di lima wilayah kotamadya di DKI Jakarta.
“Dari hasil aduan dan verifikasi lapangan, KWJK menemukan lebih dari 2.500 warga miskin kota terancam di putus dari bantuan sosial dan perlindungan sosial lainnya akibat kategorisasi sistem desil yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi hidup warga sesungguhnya,” kata Tegar.
Tegar menilai pembaruan data berdasarkan desil perlu mendapat perhatian serius. Sebab, menurut dia, kondisi ekonomi warga di lapangan tidak selalu tergambarkan secara tepat melalui kategorisasi tersebut.
Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan amanat konstitusi dalam Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara.
“Di sini letak kekeliruan negara dalam melindungi dan mengelola rakyat miskin, sehingga pada faktanya masih banyak jutaan rakyat Indonesia terancam kehilangan haknya karena desil yang tidak sesuai dengan kondisi riil kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah tuntutan massa, pertemuan langsung antara Gus Ipul dan pendemo menjadi kesempatan untuk membuka ruang dialog mengenai persoalan data penerima bantuan sosial serta dampaknya bagi warga miskin di Jakarta.







