Mengapa Sebagian Orang Menolak Tahun Baru 1 Januari

Photo Ilustrasi
WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Tidak semua orang memandang 1 Januari sebagai awal tahun yang perlu dirayakan. Di tengah euforia pergantian tahun, sebagian masyarakat memilih bersikap berbeda. Ada yang menilai penetapan 1 Januari sebagai tahun baru merupakan produk sejarah Eropa, ada pula yang menerima keberadaannya tetapi enggan merayakan. Bahkan, sebagian kelompok meyakini perayaan tahun baru 1 Januari sebagai praktik yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
Perbedaan pandangan ini bukanlah hal baru. Sepanjang sejarah manusia, penentuan awal tahun selalu berkaitan dengan konteks budaya, pertanian, dan ritual keagamaan. Jauh sebelum kalender modern dikenal luas, manusia telah berupaya menandai waktu demi memastikan keberlangsungan hidup.
Para sejarawan mencatat bahwa sistem penanggalan telah dikenal sejak era Neolitikum, meski bentuk kalender yang lebih terstruktur baru muncul pada Zaman Perunggu sekitar 3100 SM. Bangsa Sumeria di Mesopotamia dikenal sebagai pelopor kalender dengan pembagian satu tahun ke dalam 12 bulan berbasis siklus bulan. Sistem ini kemudian menginspirasi peradaban besar lain seperti Mesir, Babilonia, dan Romawi untuk mengembangkan penanggalan mereka sendiri.
Kalender Masehi yang kini digunakan secara global juga lahir melalui proses panjang. Sistem ini berakar dari Kalender Julian yang ditetapkan oleh Julius Caesar pada 45 SM. Namun, kalender tersebut mengalami ketidaktepatan dalam menghitung peredaran matahari. Ketidaksesuaian ini berdampak pada penentuan hari raya Paskah, yang oleh Gereja Katolik ditetapkan bertepatan dengan titik ekuinoks musim semi, sekitar 21 Maret.
Untuk mengoreksi masalah tersebut, Paus Gregorius XIII melakukan reformasi kalender pada 1582 yang melahirkan Kalender Gregorian. Reformasi ini memangkas 11 hari dari kalender, sehingga setelah 4 Oktober 1582, tanggal langsung melompat ke 15 Oktober. Perubahan drastis ini memicu penolakan dan polemik di berbagai wilayah Eropa.
Menariknya, kecurigaan terhadap kalender Gregorian justru pertama kali datang dari kalangan Kristen sendiri. Sejumlah negara dan gereja Protestan menolak penerapannya karena dianggap sebagai upaya dominasi Katolik. Jerman baru mengadopsinya pada 1700, Inggris pada 1752, sementara beberapa gereja Ortodoks hingga kini masih menggunakan kalender lama.
Di Inggris, perubahan kalender bahkan memicu kerusuhan. Ketika pemerintah menghapus 11 hari dari kalender, sebagian warga memprotes dengan tuntutan agar “hari mereka dikembalikan”. Sebelum reformasi tersebut, Inggris sendiri menetapkan 25 Maret sebagai awal tahun baru.
Sejarah ini menunjukkan bahwa penetapan tahun baru bukanlah sesuatu yang mutlak atau tunggal. Setiap peradaban memiliki caranya sendiri dalam menandai waktu. Tahun baru pada dasarnya merupakan kesepakatan sosial untuk memberi batas pada satu putaran perjalanan bumi mengelilingi matahari.
Pada akhirnya, 1 Januari tidak membawa perubahan fisik apa pun pada dunia. Matahari tetap sama, bumi tetap sama, dan kehidupan berjalan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Makna tahun baru sepenuhnya bergantung pada manusia yang menjalaninya.
Baik menggunakan kalender syamsiyah maupun qamariyah, penanggalan hanyalah alat bantu manusia untuk memahami waktu. Waktu itu sendiri tidak memiliki awal atau akhir,manusialah yang memberi tanda, makna, dan tujuan pada setiap pergantiannya.






