Alarm Karhutla! Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Catat Lonjakan Titik Panas di Riau

Alarm Karhutla! Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Catat Lonjakan Titik Panas di Riau

Kebakaran Hutan di Sragen,Photo kemkes.go.id

WARTAFLASH.COM,RIAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Riau setelah lonjakan signifikan titik panas terdeteksi dalam beberapa hari terakhir. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 310 titik panas tersebar di wilayah tersebut, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Bengkalis.

Berdasarkan laporan BMKG Stasiun Pekanbaru per Sabtu (4/4/2026) pukul 07.00 WIB, Bengkalis mendominasi dengan 273 titik panas. Sementara wilayah lain mencatat jumlah lebih kecil, seperti Pelalawan sebanyak 15 titik, Kota Dumai sembilan titik, serta beberapa titik lainnya di Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Pekanbaru.

Prakirawan BMKG, Yasir P, menyebutkan bahwa lonjakan ini menjadi perhatian serius karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas. Secara regional, Pulau Sumatera tercatat memiliki 405 titik panas, dengan Riau sebagai penyumbang terbesar dibanding provinsi lain.

Kondisi di lapangan pun menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau, sejumlah titik panas telah berubah menjadi titik api, terutama di Bengkalis dan Pelalawan.

Di Pelalawan, kebakaran terpantau di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti. Meski sebagian area sudah memasuki tahap pendinginan, asap masih terlihat membumbung. Sementara di Bengkalis, api dan asap tebal masih ditemukan di sejumlah lokasi, termasuk Desa Titi Akar di Rupat Utara serta beberapa desa lain di Kecamatan Bengkalis.

Kepala Pelaksana BPBD Damkar Riau, Edy Afrizal, mengungkapkan bahwa tim gabungan terus bekerja keras untuk mengendalikan situasi. Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat maupun udara, termasuk penggunaan metode water bombing untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses.

Lonjakan titik panas ini menjadi peringatan dini akan potensi karhutla yang lebih besar jika tidak segera ditangani secara maksimal, terutama di tengah kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *