Anak Usaha Indocement Dirikan Perusahaan Patungan Mortar

Anak Usaha Indocement Dirikan Perusahaan Patungan Mortar

PT.Indocement

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terus memperluas portofolio bisnisnya di luar semen dengan memperkuat lini produk turunan. Kali ini, emiten semen tersebut masuk lebih agresif ke segmen mortar melalui pembentukan perusahaan patungan.

Langkah ini ditempuh lewat anak usaha Indocement, PT Pionirbeton Industri (PBI), yang menggandeng PT Cipta Mortar Utama (CMU), afiliasi Saint-Gobain. Total nilai investasi dalam kerja sama tersebut mencapai Rp455,04 miliar.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), CMU akan menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi kepemilikan 60% dari modal ditempatkan dan disetor. Adapun PBI menguasai 40% saham perusahaan patungan tersebut.

Manajemen Indocement menilai struktur kepemilikan ini dapat mempercepat penguatan posisi perseroan di pasar mortar, yang dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan konstruksi dan renovasi bangunan.

Sekretaris Perusahaan INTP, Dani Handajani, menyampaikan bahwa pembentukan usaha patungan bertujuan menciptakan sinergi di berbagai lini, mulai dari pengembangan produk hingga distribusi dan pemasaran.

“Pembentukan perusahaan patungan ini diharapkan dapat mengoptimalkan sinergi produk, jaringan distribusi, serta pemasaran di industri mortar,” ujar Dani dalam keterangan tertulis kepada BEI.

Perseroan menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kondisi keuangan Indocement. Manajemen juga memastikan transaksi ini tidak termasuk transaksi material dan tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana diatur dalam ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ekspansi ke segmen mortar dilakukan di tengah tantangan kinerja yang dihadapi Indocement sepanjang 2025. Hingga kuartal III 2025, perseroan mencatat pendapatan neto sebesar Rp12,9 triliun, turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya volume penjualan semen dan klinker. Total penjualan selama sembilan bulan pertama 2025 tercatat 14,44 juta ton, atau terkoreksi 2% secara tahunan.

Meski demikian, Indocement berhasil menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 4% menjadi Rp8,87 triliun, sehingga laba bruto tercatat Rp4,04 triliun. Beban usaha juga turun 0,8% menjadi Rp2,69 triliun, sementara beban operasi lain menyusut menjadi Rp32,3 miliar.

Kondisi tersebut mendorong laba bersih perseroan tumbuh tipis 0,7% secara tahunan menjadi Rp1,06 triliun.

Dari sisi pasar, Indocement mencatat lonjakan signifikan pada penjualan ekspor. Hingga September 2025, volume ekspor semen dan klinker mencapai 423.000 ton, melesat 123,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kinerja industri semen nasional masih berada dalam tekanan. Penjualan semen nasional pada September 2025 tercatat 6 juta ton, turun 1% secara tahunan, meski secara bulanan naik 1% dibandingkan Agustus 2025. Secara kumulatif, penjualan semen nasional sepanjang Januari–September 2025 turun 3% menjadi 45,68 juta ton.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *