Namun, pandangan tersebut mulai dipertanyakan oleh kalangan ilmuwan. Guru Besar FMIPA UI, Agustino Zulys, menegaskan bahwa rokok herbal tetap memiliki potensi bahaya serius bagi kesehatan.
Menurutnya, kesalahan utama terletak pada cara masyarakat memahami istilah “herbal”. Banyak yang menganggap bahan alami seperti lavender, ginseng, atau peppermint otomatis aman bagi tubuh. Padahal, dalam perspektif sains, yang menentukan dampak bukan hanya bahan dasarnya, tetapi juga proses yang terjadi sebelum zat tersebut masuk ke tubuh.dikutip dari Inilah.com
Ketika rokok herbal dibakar, komposisi kimianya berubah drastis. Proses pembakaran menghasilkan asap yang mengandung berbagai zat berbahaya, seperti karbon monoksida, tar, partikel halus, hingga senyawa karsinogenik. Zat-zat ini serupa dengan yang ditemukan pada rokok biasa, meskipun tanpa kandungan nikotin.
Paparan asap tersebut, jika terjadi terus-menerus, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari penurunan fungsi paru-paru, peradangan saluran pernapasan, hingga peningkatan risiko penyakit kronis dan kanker.
Selain dampak fisik, terdapat pula efek psikologis yang tidak kalah berbahaya. Label “herbal” sering membuat pengguna merasa lebih aman, sehingga cenderung merokok lebih sering. Tanpa disadari, hal ini justru meningkatkan jumlah racun yang masuk ke dalam tubuh.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesalahpahaman umum bahwa semua yang berlabel alami pasti aman. Padahal, banyak zat alami justru menjadi berbahaya ketika diproses, terutama melalui pembakaran.
Para ahli pun mengingatkan bahwa tidak ada jenis rokok yang benar-benar aman untuk dikonsumsi. Baik berbahan tembakau maupun herbal, keduanya tetap menghasilkan zat beracun yang berdampak buruk bagi kesehatan.
Kesadaran masyarakat dalam memilah informasi menjadi hal penting di tengah maraknya klaim produk “sehat”. Sebab, kesehatan tidak ditentukan oleh label, melainkan oleh bagaimana suatu zat bekerja di dalam tubuh.
Dengan demikian, rokok herbal bukanlah alternatif aman, melainkan produk dengan risiko yang tetap perlu diwaspadai.