Menahan Amarah, Jalan Menuju Ketenangan dan Surga

Menahan Amarah, Jalan Menuju Ketenangan dan Surga

Saat Marah Datang, Islam Ajarkan Diam, Wudu, dan Memaafkan.

WARTAFLASH.COM,TANYA ISLAM – Islam mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang bertujuan membentuk pribadi berakhlak mulia, salah satunya adalah cara menyikapi kemarahan. Dalam ajaran Islam, marah bukanlah sesuatu yang sepenuhnya dilarang karena merupakan fitrah manusia. Namun, Islam menekankan pentingnya mengendalikan amarah agar tidak berujung pada perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Nabi Muhammad SAW secara tegas mengingatkan para sahabatnya untuk menjauhi kemarahan. Sebab, amarah yang tidak terkendali dapat memicu perkataan menyakitkan, merusak hubungan silaturahmi, bahkan berdampak buruk bagi kesehatan seperti meningkatkan risiko hipertensi dan stres.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kamu marah, maka bagimu surga.” Hadis ini menunjukkan bahwa kemampuan menahan emosi, khususnya amarah, memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Hadis lain dari Abu Hurairah menceritakan seorang sahabat yang meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Namun, Nabi hanya menjawab singkat dan mengulang-ulang pesan yang sama, “Jangan marah.” Pesan sederhana ini menegaskan bahwa marah kerap menjadi pintu masuk bagi perilaku tercela.

Rasulullah SAW juga memberikan solusi praktis saat seseorang diliputi amarah. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Nabi menganjurkan untuk berwudu karena marah berasal dari setan yang diciptakan dari api, sedangkan air dapat meredakannya. Selain itu, Nabi menyarankan perubahan posisi tubuh. Jika marah saat berdiri, maka duduklah. Jika belum reda, berbaringlah agar emosi perlahan menurun.

Tak hanya itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seseorang yang sedang marah memilih untuk diam. Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” Sikap diam dinilai mampu mencegah keluarnya kata-kata kasar atau tindakan yang disesali kemudian.

Keutamaan menahan amarah juga ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari. Rasulullah SAW menyebut bahwa menahan marah demi mengharap rida Allah merupakan salah satu amalan paling utama di sisi-Nya.

Pesan pengendalian emosi ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134, Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah bahkan menyatakan cinta-Nya kepada mereka yang berbuat kebaikan.

Ayat-ayat lain seperti Surah Al-A’raf ayat 199 dan Surah Asy-Syura ayat 37 kembali menekankan pentingnya bersikap pemaaf dan menjauhi sikap emosional yang berlebihan. Bahkan dalam Surah An-Nahl ayat 126, Allah SWT menegaskan bahwa kesabaran jauh lebih baik daripada membalas kemarahan dengan kemarahan.

Melalui hadis dan ayat Al-Qur’an tersebut, Islam tidak menghapus emosi marah, tetapi mengarahkannya agar tetap berada dalam kendali akal dan iman. Dengan menahan amarah, seorang muslim tidak hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga meraih ketenangan jiwa serta ganjaran besar di akhirat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *