Mensos Akui Banyak Keluarga Miskin Belum Terdata, Soroti Kasus Siswa SD Tewas di NTT

Mensos Akui Banyak Keluarga Miskin Belum Terdata, Soroti Kasus Siswa SD Tewas di NTT

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memimpin Rapat Koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pasca Bencana di Jakarta, pada Selasa, 30 Desember 2025. Dok. Kemensos

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf mengungkapkan masih banyak keluarga miskin di Indonesia yang belum tercatat dalam basis data nasional. Pernyataan ini disampaikannya menyusul perhatian publik terhadap kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengalami tekanan ekonomi karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah.

Menurut Saifullah, pemutakhiran data kesejahteraan sosial secara menyeluruh baru mulai dilakukan pada 2025 melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah keluarga miskin belum terjangkau oleh program bantuan pemerintah.

“Ini karena proses konsolidasi satu data nasional baru dimulai sejak 2025,” kata Saifullah saat ditemui di wilayah Bekasi Barat, Kota Bekasi, Rabu, 4 Februari 2026.

Ia menambahkan, Kementerian Sosial telah menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan asesmen terhadap keluarga korban. Langkah ini dilakukan agar keluarga tersebut dapat segera memperoleh bantuan yang sesuai.

Kemensos juga akan menelusuri kemungkinan adanya anggota keluarga korban yang putus sekolah. Jika ditemukan, mereka akan diarahkan untuk kembali mengenyam pendidikan, termasuk melalui program Sekolah Rakyat. “Tim sedang berkomunikasi dengan orang tua korban. Masih ada kakaknya yang akan kami upayakan agar bisa bersekolah, baik di sekolah terdekat maupun Sekolah Rakyat,” ujar Saifullah.

Sebelumnya, seorang siswa SD berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, pada Kamis, 29 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WITA.

Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, jasad korban ditemukan di kebun milik neneknya. Pada pagi hari, korban sempat dibangunkan ibunya untuk berangkat sekolah sekitar pukul 07.30 WITA, namun menolak dengan alasan sakit kepala. Meski demikian, korban tetap diminta berangkat.

Korban kemudian diantar oleh tukang ojek ke rumah neneknya untuk mengambil seragam sekolah. Namun, setibanya di lokasi, korban justru menuju sebuah bale di area kebun tersebut. Beberapa kerabat sempat menanyakan alasan korban tidak bersekolah, dan korban kembali mengeluhkan sakit kepala.

Sekitar pukul 11.00 WITA, korban ditemukan telah meninggal dunia dan kemudian dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan secarik kertas berisi pesan terakhir korban dalam bahasa daerah Ngada yang bermakna pamitan kepada ibunya.

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan para saksi untuk memastikan rangkaian peristiwa secara menyeluruh.

Sumber:Tempo

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *