Kenaikan harga energi ini tidak hanya membebani negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga memicu efek berantai pada berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pokok. Situasi ini membuat banyak negara bersiap menghadapi tekanan inflasi yang semakin tinggi.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, menilai eskalasi konflik tersebut kini telah melampaui batas kawasan dan berdampak luas secara global. Menurutnya, perang ini tidak lagi sekadar konflik regional, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia dan rantai pasok internasional.
“Jika perang ini tidak dapat dikelola dengan baik, potensi resesi sangat terbuka. Dampaknya akan terasa pada rantai pasok global, mulai dari kebutuhan dasar seperti pangan hingga sektor industri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).
Faris menjelaskan, sektor energi menjadi titik paling krusial dalam disrupsi ekonomi saat ini. Ketergantungan dunia terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah membuat kondisi semakin rentan terhadap gejolak geopolitik.
Salah satu titik rawan adalah Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi lalu lintas utama distribusi energi global. Lebih dari 40 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah ini, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat langsung berdampak pada pasokan dan harga energi dunia.
Jika ketegangan terus meningkat dan jalur distribusi terganggu, dunia tidak hanya menghadapi lonjakan harga energi, tetapi juga risiko perlambatan ekonomi global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 yang sebelumnya diperkirakan berada di kisaran 2,7 hingga 3,3 persen kini terancam melambat, bahkan berpotensi memasuki fase resesi.
Di tengah ketidakpastian ini, para analis menilai stabilitas geopolitik menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan ekonomi global, sekaligus mencegah krisis yang lebih luas.