DAERAHNASIONAL

Air Terjun Puncak Robo Harau Ditutup Sementara Usai Pengunjung Tewas Hanyut

WARTAFLASH.COM, LIMAPULUH KOTA – Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menutup sementara objek wisata Air Terjun Puncak Robo di Nagari Harau, Kecamatan Harau. Kebijakan ini diambil setelah seorang perempuan asal Pariaman, Windy Rahma Putri (25), hanyut terbawa arus dan ditemukan meninggal dunia.

Kapolsek Harau AKP Yusmedi mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Parpora) Limapuluh Kota serta perangkat Nagari Harau.

Penutupan akan berlangsung hingga pengelolaan objek wisata dievaluasi dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) permanen terbentuk. Selain itu, pengelola perlu menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) serta sistem keselamatan yang memadai bagi pengunjung.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Kamis (15/10/2026). Saat itu, Windy datang bersama lima temannya sekitar pukul 12.30 WIB untuk berwisata di kawasan air terjun.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, korban bersama teman-temannya sedang duduk di area aliran air yang relatif landai. Namun, sekitar pukul 15.41 WIB, Windy tiba-tiba hanyut terbawa arus yang cukup deras.

Melihat kejadian tersebut, kelima temannya langsung meminta bantuan warga sekitar. Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian hingga malam hari.

Operasi pencarian sempat dihentikan pada pukul 21.30 WIB akibat medan yang terjal, bebatuan licin, dan minimnya penerangan. Pencarian kembali dilanjutkan pada Jumat (16/10/2026) pagi.

Setelah melanjutkan pencarian, tim SAR akhirnya menemukan korban sekitar pukul 10.30 WIB. Windy ditemukan di antara bebatuan pada tingkat ketujuh air terjun, di kawasan dengan ketinggian sekitar 70 meter dari atas bukit.

Jenazah kemudian dievakuasi menggunakan ambulans PMI dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, guna dimakamkan.

Medan Terjal dan Arus Deras Jadi Perhatian

Air Terjun Puncak Robo memiliki medan yang cukup menantang. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu jam untuk mencapai lokasi. Kawasan tersebut juga memiliki bebatuan licin, arus air deras, serta tebing dengan kemiringan yang dilaporkan mencapai sekitar 85 derajat.

Kondisi geografis tersebut turut menyulitkan proses pencarian dan evakuasi korban oleh tim SAR gabungan.

Dalam operasi pencarian, sebanyak 119 personel dari berbagai unsur dilaporkan terlibat, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD Limapuluh Kota, pemadam kebakaran, perangkat nagari, hingga masyarakat setempat.

Setelah korban ditemukan dan dievakuasi, operasi SAR resmi ditutup pada Jumat siang.

Penutupan sementara objek wisata ini menjadi bagian dari upaya evaluasi pengelolaan dan peningkatan keselamatan pengunjung sebelum aktivitas wisata kembali dibuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *