163 Warga Kota Jambi Meninggal akibat Terserang TBC

Photo Ilustrasi
WARTAFLASH.COM,JAMBI – Ancaman tuberkulosis (TBC) masih membayangi Kota Jambi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi mencatat sebanyak 163 warga meninggal dunia akibat penyakit menular tersebut hingga pertengahan Desember 2025.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika, mengatakan angka kematian tersebut setara dengan 8,6 persen dari total kasus TBC yang ditemukan di Kota Jambi per 15 Desember 2025.
“Secara keseluruhan, kami menemukan 2.178 kasus TBC, termasuk 253 kasus pada anak-anak,” kata Rini di Jambi, Senin.
Padahal, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Kunci utamanya adalah kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan secara teratur selama minimal enam bulan sesuai standar pelayanan kesehatan.
Namun, upaya pengendalian TBC di Kota Jambi masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah stigma negatif yang masih berkembang di tengah masyarakat, sehingga membuat penderita enggan memeriksakan diri atau tidak menyelesaikan pengobatan.
“Masih kuatnya stigma negatif terhadap TBC menjadi salah satu hambatan dalam menekan laju penularan penyakit ini,” ujar Rini.dikutip dari Antara
Untuk mempercepat penanggulangan TBC, Pemerintah Kota Jambi terus menunjukkan komitmennya melalui edukasi dan penguatan regulasi. Salah satunya dengan mengimplementasikan Peraturan Wali Kota (Perwal) Jambi Nomor 32 Tahun 2025 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis Kota Jambi Tahun 2025–2030.
Peraturan tersebut menjadi pedoman strategis dalam pencegahan dan pengendalian TBC di Kota Jambi, sekaligus mendukung target eliminasi tuberkulosis nasional pada tahun 2030.
Menurut Rini, penanganan TBC harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya mengandalkan layanan medis. Faktor kesehatan hanya berkontribusi sekitar 25 persen, sementara 75 persen keberhasilan pengendalian dipengaruhi oleh faktor non-kesehatan.
“Mulai dari perbaikan gizi, kualitas lingkungan dan rumah sehat, hingga peningkatan edukasi kesehatan di ruang publik,” katanya.







