Sapi milik peternak Sarjono, warga Wonokromo, Pleret, Bantul itu memiliki berat mencapai sekitar satu ton. Hewan ternak tersebut dibeli dengan harga Rp90 juta dan nantinya akan diserahkan untuk kurban di Masjid Agung Bantul.
“Mbah Iran” merupakan sapi jantan berusia lima tahun dengan ciri khas tubuh besar, kokoh, serta warna putih keabu-abuan yang identik dengan sapi PO. Sarjono mengaku tidak menyangka sapinya bisa terpilih setelah melalui proses seleksi ketat dari pemerintah.
Menurut Sarjono, awalnya sapi tersebut didaftarkan oleh dokter hewan ke Dinas terkait sebelum akhirnya diteruskan ke kementerian untuk proses seleksi nasional. Ia baru mengetahui kabar terpilihnya “Mbah Iran” setelah mendapat panggilan langsung dari pihak terkait.
Selama hampir tiga tahun terakhir, Sarjono merawat sapi kesayangannya itu dengan perhatian khusus. Selain diberi pakan berkualitas dan vitamin rutin, sapi juga dimandikan dua kali sehari agar kondisi fisiknya tetap prima.
Tak hanya fokus pada kesehatan, Sarjono juga menjaga perilaku sapi agar tetap jinak dan tidak mudah stres. Ia mengaku sering mengajak “Mbah Iran” berinteraksi dan mengelus tubuhnya setiap hari.
Sebelum ditetapkan sebagai hewan kurban presiden, sapi tersebut lebih dulu menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari Dinas Pertanian dan Perikanan setempat. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan sapi bebas penyakit serta tidak memiliki cacat fisik.
Sarjono mengatakan keberhasilan tahun ini menjadi pencapaian tersendiri baginya. Pasalnya, pada masa pemerintahan Joko Widodo ia pernah mencoba mengikuti seleksi serupa, tetapi gagal karena sapinya terindikasi penyakit cacing hati.
Kini, “Mbah Iran” masih berada di kandang milik Sarjono sambil menunggu jadwal pengiriman menjelang Hari Raya Iduladha. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat memotivasi peternak lokal lain untuk terus meningkatkan kualitas ternak mereka agar mampu bersaing di tingkat nasional.