Prosesi pelepasan berlangsung di Aula Gedung Dakwah DPP Hidayatullah, Cipinang, Jakarta Timur, Senin (16/2/2026). Program ini menjadi bagian dari strategi penguatan dakwah berbasis kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, menegaskan bahwa wilayah 3T dan perbatasan harus dipandang sebagai beranda terdepan bangsa.
“Wilayah 3T bukan daerah pinggiran. Di sanalah wajah Indonesia terlihat. Dakwah di sana bukan hanya ceramah, tetapi menghadirkan harapan, memperkuat karakter, dan menumbuhkan ketahanan sosial,” ujarnya.
Menurutnya, para dai yang ditugaskan diharapkan mampu menjalankan peran ganda: sebagai pembimbing ibadah sekaligus penggerak perubahan sosial. Selain membina pelaksanaan ibadah Ramadan dan Idulfitri, mereka juga akan memperkuat literasi Alquran, moderasi beragama, serta nilai kebangsaan di tengah masyarakat.
Jangkauan Program Meluas
Secara nasional, Program Dai 3T tahun ini melibatkan 2.199 pendakwah yang akan diterjunkan ke 32 provinsi. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencatat 1.000 dai.
Selain Hidayatullah, Kemenag juga menggandeng sejumlah lembaga dan pesantren, di antaranya Dewan Dakwah Islam Indonesia, Pondok Pesantren Al-Mubarok Wonosobo, As’adiyah Sengkang, serta dukungan Badan Amil Zakat Nasional dan berbagai lembaga amil zakat lainnya.
Kolaborasi ini dinilai sebagai bentuk sinergi strategis untuk membangun ekosistem dakwah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Penguatan kehidupan beragama memerlukan kerja kolektif. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata pemerintah dan ormas berjalan bersama melayani umat,” tambah Muchlis.
Dakwah Berbasis Transformasi Sosial
Tidak hanya menyampaikan tausiyah, para dai juga didorong menjalankan pembinaan umat secara komprehensif. Ruang lingkup tugas mencakup pendidikan keislaman berbasis masyarakat, bimbingan baca tulis Alquran, pendampingan sosial-keagamaan, hingga penguatan harmoni sosial.
Kemenag juga menekankan pentingnya pendekatan dakwah yang menyentuh dimensi lingkungan melalui nilai ekoteologi Islam, sehingga dai dapat berperan sebagai agen transformasi sosial sekaligus penjaga keseimbangan alam.
“Dakwah tidak berhenti pada mimbar. Ia harus hadir sebagai pembinaan berkelanjutan yang menyentuh aspek spiritual, sosial, kebangsaan, dan lingkungan secara terpadu,” pungkas Muchlis.
Dengan penguatan program secara nasional ini, pemerintah berharap akses layanan keagamaan di wilayah 3T dan perbatasan semakin merata, sekaligus memperkokoh ketahanan umat dan persatuan bangsa dari pinggiran negeri.