Rupiah Tertekan! Dolar AS Perkasa, Harga Minyak Tembus US$105

Rupiah Tertekan! Dolar AS Perkasa, Harga Minyak Tembus US$105

Rupiah Melemah Tajam, Konflik Timur Tengah dan The Fed Jadi Pemicu

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya sentimen eksternal yang membebani pasar keuangan global. Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, kembali mengalami penundaan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan sebagian pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

“Penguatan dolar AS terus berlangsung dan memberi tekanan besar terhadap mata uang emerging markets. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah baru di kisaran Rp17.520 per dolar AS,” ujar Imam dalam risetnya, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah semakin berat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Krisis di Selat Hormuz yang mengganggu distribusi energi global telah mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$105 per barel.

Ia menilai kombinasi antara penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta arus modal asing yang keluar dari pasar domestik menciptakan tekanan berlapis bagi perekonomian nasional dan pasar keuangan Indonesia.

Di sektor komoditas, gejolak geopolitik masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan harga. Harga minyak dunia terus mengalami penguatan karena kekhawatiran terhadap potensi kekurangan pasokan global.

Sementara itu, harga batu bara masih bertahan kuat seiring meningkatnya konsumsi energi berbasis coal di kawasan Asia. Pergeseran penggunaan energi dari LNG ke batu bara terjadi di tengah konflik global yang berkepanjangan dan memicu gangguan pasokan energi.

Berbeda dengan minyak dan batu bara, harga emas mulai mengalami tekanan akibat aksi ambil untung atau profit taking. Pelaku pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil sehingga mengurangi daya tarik aset safe haven tersebut.

Untuk komoditas nikel, pelemahan harga dinilai lebih dipicu tingginya persediaan global dan aksi profit taking investor dibanding perubahan fundamental jangka panjang industri.

Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) dinilai menjadi kabar positif bagi perusahaan tambang dan operator smelter. Kebijakan tersebut diyakini mampu menjaga stabilitas margin keuntungan emiten di tengah tingginya volatilitas pasar global.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *