Data tersebut disampaikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam laporan statistik terbaru yang dirilis pada Jumat (22/5/2026). Tenaga kerja yang terserap berasal dari 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah.
Dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI di Jakarta, Sabtu (23/5/2026), capaian ini disebut sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026.
“Dari MBG saja kita sudah buka 1,2 juta lapangan kerja baru di dapur-dapur,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya. Ia menegaskan program tersebut juga memastikan pasar bagi petani, peternak, dan nelayan tetap terjamin melalui sistem penyerapan bahan pangan yang stabil.
Program MBG saat ini melayani sekitar 62,45 juta penerima manfaat, mulai dari peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga santri di berbagai wilayah Indonesia. Skala besar program ini membuat rantai pasok pangan ikut bergerak secara masif dari hulu hingga hilir.
BGN mencatat terdapat 142.387 pemasok yang terlibat dalam program tersebut. Dari jumlah itu, puluhan ribu di antaranya berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang menunjukkan kuatnya keterlibatan ekonomi lokal.
Selain menciptakan lapangan kerja, program ini juga mendorong permintaan bahan pangan dalam jumlah besar. Satu SPPG, misalnya, membutuhkan ratusan kilogram beras, ribuan ekor ayam per bulan, hingga ratusan liter susu per hari untuk memenuhi kebutuhan ribuan porsi makanan bergizi.
Dengan skala yang terus berkembang, MBG dinilai menjadi salah satu program yang tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga berperan sebagai penggerak utama ekonomi rakyat melalui ekosistem produksi dan distribusi pangan nasional.