Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.604 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Tinggi

Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.604 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Tinggi

Photo Ilustrasi IA Rupiah Melemah,Viva.com

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini di tengah tingginya tekanan global dan sentimen geopolitik internasional. Meski sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, rupiah kembali dibuka melemah di pasar spot.

Berdasarkan data

(Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah berada di level Rp17.496 per dolar AS pada Rabu, 13 Mei 2026. Posisi tersebut menguat 18 poin dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.514 per dolar AS.

Namun pada perdagangan pasar spot Jumat, 15 Mei 2026 hingga pukul 09.00 WIB, rupiah melemah ke posisi Rp17.604 per dolar AS. Nilai itu turun 75 poin atau sekitar 0,43 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.529 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dibayangi berbagai sentimen eksternal dan kondisi fiskal domestik. Salah satunya terkait posisi utang pemerintah yang terus meningkat hingga mendekati Rp10.000 triliun.

Hingga akhir Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau naik sekitar Rp282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,90 triliun. Meski demikian, pemerintah menilai rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 40,75 persen masih tergolong aman karena berada di bawah batas maksimal 60 persen sesuai aturan Undang-Undang Keuangan Negara.

Sebagian besar utang pemerintah masih berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang nilainya mencapai Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang.

Di sisi lain, Bank Indonesia tetap melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar offshore Non Deliverable Forward (NDF). Langkah tersebut dilakukan secara berkelanjutan di pasar keuangan Asia, Eropa, hingga New York untuk menjaga kestabilan rupiah di tengah tekanan global.

Bank Indonesia juga disebut akan melakukan intervensi agresif di pasar domestik mulai 18 Mei 2026, termasuk melalui pasar valuta asing dan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.470 hingga Rp17.530 per dolar AS.

Selain faktor domestik, pasar global juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam situasi kritis. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz dan meningkatkan tekanan inflasi global akibat kenaikan harga energi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *