DPR RI Nilai Papua Rentan Perang Persepsi Lewat Isu Lingkungan dan Adat

DPR RI Nilai Papua Rentan Perang Persepsi Lewat Isu Lingkungan dan Adat

Azis Subekti: Film “Pesta Babi” Harus Dilihat dalam Perang Persepsi Era Digital

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan bahwa perdebatan seputar film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” perlu dilihat secara lebih jernih dan dewasa di tengah meningkatnya perang persepsi di era digital.

Menurutnya, dinamika informasi saat ini tidak lagi hanya dipengaruhi kekuatan militer atau politik terbuka, melainkan juga melalui pembentukan opini publik yang berjalan halus lewat media visual, film dokumenter, dan ruang digital.

“Propaganda modern tidak lagi hadir secara keras, tetapi melalui narasi emosional yang perlahan membentuk cara pandang masyarakat,” ujar Azis dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).Dikutip dari Republika

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pembangunan di Papua merupakan bagian sah dari demokrasi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kritik tetap harus disertai tanggung jawab etis agar tidak berubah menjadi pembentukan opini yang tidak berimbang terhadap negara.

Azis menilai film tersebut merupakan bagian dari dokumenter advokatif yang membawa perspektif tertentu dalam melihat persoalan Papua Selatan. Karena itu, publik diminta tidak serta-merta menerima seluruh narasi secara hitam-putih.

Ia menjelaskan bahwa kondisi Papua memiliki kompleksitas yang tidak sederhana, dengan berbagai kepentingan, aspirasi, dan realitas sosial yang berjalan bersamaan. Di satu sisi terdapat kritik terhadap pembangunan, namun di sisi lain ada pula harapan masyarakat terhadap peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“Realitas Papua tidak bisa disederhanakan menjadi satu narasi tunggal,” ujarnya.

Azis juga menyoroti pentingnya Papua Selatan, khususnya Merauke, dalam konteks ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global seperti krisis pangan dan perubahan iklim. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa Papua juga kerap menjadi ruang yang rentan terhadap konflik persepsi global, terutama melalui isu lingkungan, identitas adat, dan hak masyarakat lokal yang dapat berkembang menjadi tekanan politik internasional.

Ia menilai penyebaran film tersebut melalui berbagai ruang diskusi publik, kampus, dan komunitas aktivis menunjukkan bagaimana narasi digital dapat membentuk opini secara emosional dan ideologis di masyarakat modern.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *