Kementan Genjot Tanam 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi Hadapi Ancaman Kemarau

Kementan Genjot Tanam 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi Hadapi Ancaman Kemarau

Petani bersiap menaman padi di area persawahan di Bogoran, Bantul, Yogyakarta, Kamis (16/1). Menurut data Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta jumlah lahan persawahan produktif di Yogyakarta berkurang hingga 200 hektar setiap tahun karena maraknya alih fungsi lahan yang sebagian besar menjadi perumahan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/Koz/mes/14.

WARTAFLASH.COM,SUMBAR – Pemerintah tancap gas menjaga ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian meluncurkan gerakan tanam serentak seluas 50 ribu hektare di 25 provinsi sebagai langkah cepat menghadapi ancaman musim kemarau sekaligus memulihkan lahan terdampak bencana.

Gerakan yang digelar pada 30 April 2026 ini menyasar berbagai jenis lahan, mulai dari optimalisasi lahan (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), hingga area yang terdampak bencana. Titik utama kegiatan dipusatkan di Kabupaten Agam, yang menjadi simbol dimulainya percepatan tanam nasional.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran penyuluh dan petani di lapangan. Menurutnya, lahan yang sudah siap harus segera ditanami agar tidak kehilangan momentum produksi.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi modern dalam mendukung percepatan tanam. Penggunaan alat dan mesin pertanian seperti rice transplanter hingga drone dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, Andi Amran Sulaiman yang mengikuti kegiatan secara daring, memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari komitmen besar menuju swasembada pangan nasional.

Menurutnya, perluasan areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus didorong untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Upaya ini menjadi kunci menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi menyebut percepatan tanam sebagai strategi utama menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Berbagai langkah mitigasi pun telah disiapkan, mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga penguatan infrastruktur air.

Strategi tersebut mencakup pompanisasi besar-besaran, pemanfaatan lahan rawa, penggunaan benih tahan kekeringan, serta pembangunan sarana air seperti embung dan sumur bor. Semua langkah ini diarahkan untuk memastikan produktivitas tetap terjaga meski menghadapi tekanan iklim.

Dukungan dari daerah pun mengalir. Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, menyebut program ini membawa dampak nyata bagi peningkatan produksi di wilayahnya. Ia optimistis daerahnya dapat berkontribusi sebagai penyangga pangan nasional.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, gerakan tanam serentak ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk menjaga pasokan pangan, meningkatkan produksi, serta memperkuat ketahanan nasional di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *