CEO Xiaomi, Lei Jun, mengatakan tren kenaikan harga memori sudah mulai terlihat sejak tahun lalu dan diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mendorong harga handphone terus meningkat di pasar global.
Lei Jun menyarankan pengguna yang rutin mengganti smartphone setiap tahun untuk mempertimbangkan membeli perangkat lebih awal sebelum harga semakin tinggi. Ia menyebut biaya produksi perangkat elektronik saat ini semakin berat akibat naiknya harga komponen utama industri teknologi.
Meski menghadapi tekanan biaya, Xiaomi mengaku masih berusaha menjaga harga produk tetap kompetitif. Perusahaan disebut melakukan efisiensi pada rantai pasok dan pengembangan teknologi internal agar kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
Namun demikian, Lei Jun mengakui kemampuan perusahaan menahan kenaikan harga memiliki batas. Jika harga cip memori terus melonjak, produsen smartphone diperkirakan akan semakin sulit mempertahankan harga jual perangkat di level saat ini.
Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan Presiden Xiaomi Group, Lu Weibing. Ia memperkirakan harga smartphone flagship premium dari sejumlah merek China dapat mencapai 10.000 yuan atau sekitar US$1.470 pada akhir tahun 2026.
Menurut Lu Weibing, tekanan harga komponen diperkirakan belum akan mereda hingga 2027, bahkan berpotensi berlanjut sampai 2028. Kondisi tersebut dinilai akan memengaruhi harga berbagai perangkat elektronik konsumen secara lebih luas.
Dampak kenaikan biaya komponen mulai terlihat di pasar smartphone China. Sejak Maret 2026, sejumlah model ponsel dilaporkan mengalami kenaikan harga sekitar 200 hingga 400 yuan akibat meningkatnya ongkos produksi komponen utama.