Testis Turun dan Skrotum Makin Kendur, Kapan Pria Harus ke Dokter

Foto profil wa keren buat cowok siluet (pinterest.com).
WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Perubahan bentuk skrotum atau kantong testis sering membuat pria bertanya-tanya. Salah satu perubahan yang cukup umum yaitu skrotum terlihat semakin kendur seiring bertambahnya usia.
Kondisi tersebut tidak selalu menandakan gangguan kesehatan. Skrotum memang memiliki mekanisme alami untuk mengatur suhu testis agar produksi sperma tetap berjalan dengan baik.
Ketika suhu lingkungan meningkat, otot di sekitar testis mengendur sehingga testis menjauh dari tubuh. Sebaliknya, suhu dingin membuat otot tersebut berkontraksi dan menarik testis lebih dekat ke tubuh.
Namun, perubahan yang muncul secara tiba-tiba atau disertai gejala lain perlu mendapat perhatian.
Mengapa Skrotum Bisa Terlihat Lebih Kendur?
Usia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi elastisitas kulit. Seiring waktu, produksi kolagen dan elastin menurun. Kondisi tersebut membuat kulit kehilangan sebagian kelenturannya, termasuk pada area skrotum.
Selain faktor usia, suhu juga memengaruhi posisi testis. Saat tubuh merasa panas, skrotum mengendur untuk membantu pelepasan panas.
Sebaliknya, suhu dingin membuat otot kremaster berkontraksi. Mekanisme tersebut menarik testis lebih dekat ke tubuh.
Karena itu, ukuran dan posisi skrotum dapat berubah sepanjang hari tanpa menunjukkan masalah kesehatan.
Kapan Perubahan Perlu Diwaspadai?
Skrotum yang kendur umumnya tidak berbahaya jika tidak menimbulkan keluhan lain. Namun, pria perlu lebih waspada ketika perubahan muncul bersama nyeri, pembengkakan, benjolan, rasa berat, atau perubahan bentuk yang berlangsung cepat.
Beberapa kondisi medis dapat membuat skrotum tampak lebih besar atau turun lebih rendah dari biasanya.
Varikokel
Varikokel terjadi ketika pembuluh darah vena di sekitar testis melebar. Kondisinya menyerupai varises pada kaki.
Varikokel dapat membuat skrotum terasa berat atau tampak lebih kendur. Pada sebagian pria, kondisi ini juga dapat berkaitan dengan masalah kesuburan.
Hidrokel
Hidrokel terjadi ketika cairan menumpuk di sekitar testis. Penumpukan tersebut dapat membuat skrotum membesar dan terasa berat.
Hidrokel sering kali tidak menimbulkan masalah serius. Namun, dokter perlu memeriksa penyebab pembengkakan, terutama jika ukurannya terus bertambah atau menimbulkan rasa tidak nyaman.
Tidak Ada Krim atau Latihan Khusus yang Terbukti Mengencangkan Skrotum
Sebagian pria mungkin mencari cara untuk mengembalikan kekencangan skrotum. Namun, hingga kini tidak ada bukti kuat bahwa latihan tertentu atau obat oles dapat mengencangkan skrotum secara permanen.
Beberapa langkah tetap dapat membantu menjaga kenyamanan. Pria dapat menggunakan pakaian dalam yang memberikan dukungan ketika berolahraga atau melakukan aktivitas fisik berat.
Menjaga berat badan, mencukupi kebutuhan cairan, dan rutin berolahraga juga mendukung kesehatan tubuh secara umum. Namun, kebiasaan tersebut tidak otomatis mengembalikan elastisitas kulit skrotum seperti saat muda.
Penanganan Bergantung pada Penyebab
Dokter akan menentukan penanganan berdasarkan penyebab perubahan pada skrotum.
Jika pemeriksaan menemukan varikokel yang menimbulkan keluhan atau mengganggu kesuburan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis, termasuk operasi.
Sementara itu, dokter juga dapat menangani hidrokel melalui prosedur tertentu jika pembengkakan menimbulkan rasa tidak nyaman atau terus membesar.
Karena itu, pria sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyebab perubahan hanya berdasarkan penampilan.
Perubahan Mendadak Jangan Diabaikan
Pria tidak dapat sepenuhnya mencegah skrotum mengalami perubahan akibat usia. Namun, menjaga kesehatan tubuh dan menghindari paparan panas berlebihan dalam waktu lama dapat membantu menjaga kondisi area tersebut.
Yang paling penting, perhatikan perubahan yang tidak biasa.
Jika skrotum tiba-tiba membengkak, terasa nyeri, muncul benjolan, mengalami perubahan bentuk yang cepat, atau terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, segera periksakan ke dokter.
Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat membedakan perubahan fisiologis normal dari kondisi yang membutuhkan penanganan.







