Jangan Anggap Semua Sama! Kenali 4 Jenis Batu Ginjal dan Penyebabnya

Jangan Anggap Semua Sama! Kenali 4 Jenis Batu Ginjal dan Penyebabnya

Nephrolithiasis, irregular brown kidney stones (renal calculus or nephrolith), the stones are different in size after operative ureteroscopy and Laser Lithotripsy and fragmentation, selective focus

WARTAFLASH.COM,JAMBI – Batu ginjal dapat muncul ketika mineral dan zat tertentu dalam urine mengendap lalu membentuk kristal. Jika kristal terus menumpuk, ukurannya dapat membesar dan mengganggu saluran kemih.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai nefrolitiasis. Gangguan ini termasuk masalah urologi yang cukup umum dan dapat menyerang berbagai kelompok usia.

Pola makan, kurang minum, berat badan berlebih, diabetes, hingga faktor genetik dapat meningkatkan risikonya. Menariknya, batu ginjal tidak selalu memiliki komposisi yang sama.

Setiap jenis batu memiliki karakteristik dan faktor pemicu yang berbeda. Karena itu, mengenali jenis batu menjadi langkah penting untuk menentukan cara pencegahan.

Batu Kalsium Paling Sering Ditemukan

Batu kalsium menjadi jenis batu ginjal yang paling banyak ditemukan. Sekitar 70–80 persen kasus berkaitan dengan kalsium, terutama kalsium oksalat dan sebagian kalsium fosfat.

Banyak orang mengira konsumsi kalsium otomatis meningkatkan risiko batu ginjal. Padahal, tubuh tetap membutuhkan kalsium dari makanan dalam jumlah yang cukup.

Kalsium dari makanan justru dapat membantu mengikat oksalat di dalam usus. Proses tersebut mengurangi jumlah oksalat yang masuk ke urine.

Sebaliknya, kurang minum, konsumsi garam berlebihan, pola makan tinggi protein hewani, obesitas, dan kadar oksalat urine yang tinggi dapat meningkatkan risiko.

Bayam, bit, cokelat, beberapa jenis kacang, dan teh hitam termasuk makanan yang mengandung oksalat.

Beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko, seperti hiperparatiroidisme, penyakit radang usus, dan gangguan metabolisme tertentu.

Faktor risiko utama:

  • Kurang minum.
  • Konsumsi garam berlebihan.
  • Pola makan tinggi protein hewani.
  • Obesitas.
  • Diabetes tipe 2.
  • Riwayat keluarga.
  • Kadar oksalat urine tinggi.

Batu Asam Urat Berkaitan dengan Urine Asam

Batu asam urat muncul ketika urine memiliki tingkat keasaman tinggi. Kondisi tersebut membuat asam urat lebih mudah membentuk kristal.

Tubuh menghasilkan asam urat ketika memecah purin. Senyawa ini terdapat secara alami dalam tubuh dan juga ditemukan pada sejumlah makanan.

Jeroan, daging merah, kerang, sarden, serta beberapa makanan laut memiliki kandungan purin yang cukup tinggi.

Namun, kadar asam urat darah yang tinggi tidak selalu menjadi penyebab utama. Kondisi urine yang terlalu asam sering memainkan peran lebih besar.

Obesitas, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, dan resistansi insulin juga dapat meningkatkan risiko karena kondisi tersebut cenderung membuat urine lebih asam.

Faktor risikonya meliputi:

  • Konsumsi makanan tinggi purin.
  • Obesitas.
  • Diabetes tipe 2.
  • Sindrom metabolik.
  • Dehidrasi.
  • Gout.
  • Urine terlalu asam.

Batu Struvit Muncul akibat Infeksi

Batu struvit memiliki karakteristik berbeda. Jenis batu ini hampir selalu berkaitan dengan infeksi saluran kemih.

Bakteri seperti Proteus, Klebsiella, dan Pseudomonas dapat menghasilkan enzim urease. Enzim tersebut mengubah kondisi urine sehingga kristal struvit lebih mudah terbentuk.

Batu struvit juga dapat berkembang dengan cepat. Dalam kondisi tertentu, batu dapat memenuhi sebagian besar sistem pengumpul urine di ginjal.

Dokter mengenal kondisi tersebut sebagai staghorn calculi atau batu tanduk rusa.

Pasien tidak selalu merasakan nyeri sejak awal. Sebagian baru mengetahui masalah tersebut setelah mengalami infeksi saluran kemih berulang, demam, nyeri pinggang, atau gangguan fungsi ginjal.

Beberapa faktor risikonya:

  • Infeksi saluran kemih berulang.
  • Kelainan anatomi saluran kemih.
  • Penggunaan kateter dalam jangka panjang.
  • Gangguan pengosongan kandung kemih.
  • Gangguan saraf yang memengaruhi fungsi kandung kemih.

Batu Sistin Berkaitan dengan Faktor Genetik

Batu sistin termasuk jenis yang jarang. Faktor genetik, bukan pola makan atau infeksi, menjadi penyebab utamanya.

Kondisi tersebut bernama sistinuria. Pada penderita sistinuria, ginjal mengalami gangguan dalam menyerap kembali asam amino sistin.

Akibatnya, kadar sistin dalam urine meningkat. Karena sistin sulit larut, zat tersebut dapat membentuk kristal dan berkembang menjadi batu.

Batu sistin sering muncul sejak usia remaja atau dewasa muda. Pasien juga kerap memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.

Faktor risikonya antara lain:

  • Sistinuria.
  • Riwayat keluarga.
  • Kurang minum.
  • Volume urine rendah.

Kebiasaan Sederhana Bantu Cegah Batu Ginjal

Meskipun setiap jenis batu memiliki penyebab berbeda, beberapa kebiasaan dapat membantu menurunkan risiko.

Pertama, cukupi kebutuhan cairan setiap hari. Usahakan urine tetap berwarna kuning pucat sebagai salah satu tanda tubuh mendapat cukup cairan.

Selain itu, batasi konsumsi garam dan minuman tinggi gula. Pertahankan berat badan dalam rentang sehat dan tetap konsumsi kalsium dari makanan dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

Orang dengan diabetes dan tekanan darah tinggi juga perlu mengendalikan kondisi tersebut dengan baik.

Jika mengalami infeksi saluran kemih, segera konsultasikan dan tangani sesuai anjuran tenaga medis. Sementara bagi orang yang pernah mengalami batu ginjal berulang, pemeriksaan metabolik dapat membantu menemukan faktor pemicu.

Dengan mengetahui jenis batu dan penyebabnya, seseorang dapat memilih langkah pencegahan yang lebih tepat dan mengurangi risiko batu ginjal kembali muncul.

Sumber:IDNTIMES

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *