Imbas Konflik Timur Tengah, Thailand Terapkan WFH

Imbas Konflik Timur Tengah, Thailand Terapkan WFH

Photo Ilustrasi.

WARTAFLASH.COM,THAILAND – Pemerintah Thailand mulai menerapkan sejumlah kebijakan penghematan energi di tengah terganggunya pasokan minyak global akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah. Salah satu langkah yang diambil adalah mewajibkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah (work from home/WFH) serta mengurangi penggunaan fasilitas listrik di kantor.

Pelaksana tugas Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Selasa (10/3) mengumumkan berbagai kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintah mengendalikan konsumsi energi nasional. Kebijakan ini diumumkan setelah muncul kekhawatiran terkait lonjakan harga energi global.

Selain kebijakan WFH, pemerintah juga mendorong pegawai untuk menggunakan tangga dibandingkan lift guna menghemat penggunaan listrik di gedung perkantoran.

Sejumlah Aturan Penghematan Diterapkan

Dalam kebijakan baru tersebut, pemerintah Thailand juga menunda perjalanan dinas ke luar negeri bagi aparatur negara. Selain itu, suhu pendingin ruangan di kantor diminta diatur pada kisaran 26 hingga 27 derajat Celsius untuk menekan penggunaan energi.

Para pegawai juga dianjurkan mengenakan pakaian kerja yang lebih santai seperti kemeja lengan pendek tanpa dasi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan.

Pemerintah turut meminta pegawai mematikan perangkat listrik yang tidak digunakan, mengurangi pemakaian mesin fotokopi, serta memaksimalkan pertemuan secara daring dibandingkan tatap muka langsung.

Dampak Konflik Timur Tengah

Kebijakan penghematan energi tidak hanya diterapkan Thailand. Sejumlah negara lain di Asia seperti Bangladesh dan Pakistan juga mengambil langkah serupa, termasuk menerapkan kerja jarak jauh dan menutup sekolah sementara guna menekan konsumsi energi.

Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Pemerintah Iran menyatakan serangan tersebut menewaskan hampir 1.300 orang.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz sejak 1 Maret. Jalur pelayaran strategis tersebut menangani sekitar 20 juta barel minyak per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair dunia.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *