Pantura Jawa Kritis! Erosi Hantam Mayoritas Garis Pantai dalam Dua Dekade

Pantura Jawa Kritis! Erosi Hantam Mayoritas Garis Pantai dalam Dua Dekade

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026 untuk memanfaatkan Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa sebagai alternatif perjalanan. Selain membantu mengurai kepadatan lalu lintas di Jalur Pantai Utara (Pantura) dan Jalan Tol Trans Jawa,

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Kondisi pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa kian memprihatinkan. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, mengungkapkan bahwa sekitar 65,8 persen garis pantai di wilayah tersebut mengalami erosi dalam dua dekade terakhir.

Dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026), ia menjelaskan bahwa tekanan pembangunan yang tinggi di kawasan pesisir menjadi salah satu pemicu utama. Pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi yang masif mendorong eksploitasi sumber daya laut dan pesisir secara berlebihan.dikutip dari Antara

Menurut Tubagus, secara geologis sebagian besar Pantura Jawa tersusun dari endapan pluvial dan delta yang belum terkonsolidasi dengan baik. Kondisi ini membuat struktur tanah di kawasan tersebut rentan terhadap pengikisan dan penurunan permukaan.

Hasil analisis berbasis citra satelit Sentinel selama periode 2000 hingga 2024 menunjukkan ketimpangan signifikan antara erosi dan akresi. Laju pengikisan mencapai 65,8 persen, sementara penambahan daratan hanya sekitar 34,2 persen.

Fenomena ini dinilai tidak lazim, mengingat kawasan delta secara alami merupakan wilayah yang cenderung mengalami sedimentasi. Namun, berbagai aktivitas manusia di wilayah hulu seperti kanalisasi, perubahan alur sungai, hingga pembangunan bendungan telah menghambat pasokan sedimen ke wilayah pesisir.

Secara morfologi, lanjutnya, sekitar 83 persen Pantura Jawa merupakan dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter. Kondisi ini membuat wilayah tersebut semakin rentan terhadap dampak erosi dan kenaikan muka air laut.

Dampak nyata terlihat di sejumlah titik. Di Tanjung Pontang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi dilaporkan hilang akibat perubahan aliran Sungai Ciujung Baru. Sementara itu, di Pantai Bahagia, intrusi air laut telah mencapai hingga empat kilometer ke daratan, merendam lebih dari 1.000 hektare tambak serta merusak infrastruktur warga secara permanen.

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pengelolaan wilayah pesisir ke depan, terutama dalam menyeimbangkan pembangunan dengan keberlanjutan lingkungan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *