Dalam pidatonya, Amran menyoroti tiga persoalan besar yang tengah dihadapi global, yakni krisis pangan, energi, dan air. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi solusi jika mampu mencapai kemandirian di ketiga sektor tersebut.
Menurutnya, capaian sektor pertanian nasional saat ini menunjukkan perkembangan signifikan. Stok pangan Indonesia telah mencapai sekitar 4,9 juta ton dan diperkirakan segera menembus angka 5 juta ton, meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran 2,6 juta ton.
Di bidang energi, pemerintah tengah mempercepat pemanfaatan biofuel berbasis minyak sawit guna mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Selain itu, pengembangan bioetanol campuran E20 yang berasal dari tebu, jagung, dan singkong juga terus didorong.
Amran bahkan menegaskan target ambisius pemerintah untuk menghentikan impor solar pada pertengahan 2026 dan menggantinya dengan energi alternatif dari dalam negeri.
Ia juga menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan teknologi yang aplikatif. Dalam hal ini, ITS dinilai mampu merespons kebutuhan nasional dengan cepat, terutama dalam pengembangan inovasi yang relevan bagi sektor pertanian.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah traktor listrik karya ITS. Teknologi ini dinilai lebih hemat biaya karena tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Kementerian Pertanian pun telah memesan sejumlah unit untuk tahap uji coba.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengembangkan bahan bakar berbasis sawit seperti bio-gasoline melalui kerja sama dengan PTPN IV. Jika berhasil, proyek ini akan diperluas ke skala industri yang lebih besar.
Amran menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah menuntaskan agenda kemandirian nasional, di mana sektor pangan dinilai sudah relatif aman, sektor energi hampir tercapai melalui biofuel, dan komoditas protein hewani bahkan telah menembus pasar ekspor.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan bahwa kampusnya terus berupaya meningkatkan kualitas lulusan agar siap menghadapi tantangan global. Pada wisuda tersebut, ITS meluluskan 1.710 mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa ITS memperkuat keterlibatan industri dalam kurikulum dan program magang agar lulusan memiliki kesiapan kerja yang lebih baik. Selain itu, penelitian yang dilakukan di kampus didorong agar tidak berhenti di ranah akademik, melainkan menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan industri juga terus diperluas, termasuk dengan Kementerian Pertanian, guna memastikan inovasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Menutup sambutannya, Amran mengajak para lulusan ITS untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui kerja sama dan semangat inovasi demi kemajuan Indonesia.