AS Siapkan Pengurangan Besar Kekuatan Militer di Eropa, Fokus Beralih ke Indo-Pasifik

F-22 Raptor dari Lockheed Martin, Amerika Serikat. Bisa dibilang inilah pesawat tempur dengan biaya pengembangan dan pembuatan termahal di dunia hingga saat ini, yaitu di atas 120 juta dolar Amerika Serikat perunit kosong. Teknologi terkini dan state-of-the-art dibenamkan ke dalam pesawat tempur yang tidak dibuat versi kursi gandanya. (en.wikipedia.org)
WARTAFLASH.COM,WASHINGTON – Amerika Serikat tengah mempertimbangkan perubahan besar dalam postur militernya di Eropa dengan mengurangi sejumlah aset tempur yang selama ini mendukung operasi NATO. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi baru Washington yang menempatkan kawasan Indo-Pasifik sebagai prioritas utama dalam menghadapi meningkatnya pengaruh dan kekuatan militer China.
Menurut sejumlah informasi yang beredar di lingkungan NATO, Pentagon sedang melakukan kajian menyeluruh terkait distribusi kekuatan militer AS di berbagai kawasan dunia. Hasil kajian tersebut berpotensi mengurangi secara signifikan jumlah pesawat tempur, pesawat patroli maritim, pesawat pengisian bahan bakar di udara, hingga kapal perang yang selama ini ditempatkan untuk mendukung pertahanan Eropa.
Rencana tersebut menandai salah satu penyesuaian terbesar dalam hubungan pertahanan Amerika Serikat dengan NATO sejak berakhirnya Perang Dingin. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut ingin mendorong negara-negara Eropa agar mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan mereka sendiri.
Salah satu perubahan yang dipertimbangkan adalah pengurangan jumlah pesawat tempur yang disiagakan untuk misi NATO dari sekitar 150 unit menjadi sekitar 100 unit. Pengurangan diperkirakan akan melibatkan armada F-16 Fighting Falcon dan F-15E Strike Eagle yang selama ini menjadi elemen penting pertahanan udara aliansi.
Selain itu, jumlah pesawat patroli maritim juga dikabarkan akan dipangkas hampir separuhnya, dari 26 unit menjadi 15 unit. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan pemantauan aktivitas bawah laut dan pergerakan kapal asing di wilayah strategis seperti Laut Baltik, Laut Utara, dan Atlantik Utara.
Kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang selama ini menjadi salah satu keunggulan utama militer AS juga masuk dalam daftar penyesuaian. Delapan pesawat tanker yang saat ini mendukung operasi NATO disebut akan ditarik, sehingga dapat menimbulkan tantangan baru bagi negara-negara Eropa yang masih memiliki keterbatasan pada sektor tersebut.
Tidak hanya kekuatan udara, pengurangan juga diperkirakan menyentuh unsur laut dan pembom strategis. Beberapa aset yang berpotensi ditarik antara lain kapal selam serang, kelompok tempur kapal induk, kapal perang permukaan, serta satu satuan pembom strategis yang selama ini menjadi bagian dari upaya pencegahan NATO di Eropa.
Perubahan kebijakan ini terjadi di tengah dinamika keamanan yang terus berkembang setelah konflik Rusia-Ukraina pecah pada 2022. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan mereka secara signifikan untuk memperkuat kesiapan militer.
Polandia menjadi salah satu contoh paling menonjol. Negara tersebut kini mengalokasikan lebih dari empat persen produk domestik bruto (PDB) untuk sektor pertahanan dan melakukan modernisasi besar-besaran melalui pembelian jet tempur F-35A, helikopter AH-64 Apache, sistem pertahanan udara Patriot, serta tank M1 Abrams.
Bagi Washington, peningkatan kemampuan militer negara-negara Eropa dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan pembagian beban pertahanan yang lebih seimbang di dalam NATO. Sementara itu, sumber daya yang tersedia dapat difokuskan untuk menghadapi tantangan strategis baru di kawasan Indo-Pasifik yang dinilai semakin menentukan dalam persaingan geopolitik global.







