90 Camera Trap Ungkap Kehadiran Harimau Sumatra di Hutan Jambi–Sumsel

Seekor harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) berhasil terekam kamera jebak di kawasan hutan harapan. Kepala Departemen Riset dan Konservasi PT REKI Hutan Harapan Rohmat Eko Santoso di Jambi menyampaikan bahwa temuan tersebut masih dalam proses identifikasi lebih lanjut, Sabtu (13/6/2026). ANTARA/HO-Humas PT REKI.
WARTAFLASH.COM,JAMBI – Keberadaan harimau sumatra kembali terkonfirmasi di kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan yang membentang di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. Seekor individu harimau liar terekam kamera jebak (camera trap) yang dipasang dalam kegiatan pemantauan satwa liar di kawasan tersebut.
Rekaman tersebut diperoleh pada pertengahan April 2026, namun hingga kini tim peneliti masih melakukan proses identifikasi lebih lanjut untuk memastikan usia maupun jenis kelamin satwa langka tersebut.
Kepala Departemen Riset dan Konservasi PT REKI Hutan Harapan, Rohmat Eko Santoso, menyampaikan bahwa data temuan masih dalam tahap analisis. Menurutnya, hasil awal baru menunjukkan adanya kehadiran harimau tanpa rincian karakteristik individu.
Kamera jebak dipasang dalam periode Februari hingga Juni 2026 sebagai bagian dari program pemantauan keanekaragaman hayati. Sebanyak 90 unit kamera ditempatkan pada titik-titik strategis dengan metode sistematis berbasis grid atau pola “papan catur” untuk mencakup area pengamatan secara menyeluruh.
Temuan keberadaan harimau ini dinilai menjadi indikator penting bahwa fungsi ekologis kawasan Hutan Harapan masih berjalan dengan baik sebagai habitat satwa liar.
Selain harimau sumatra, selama periode pemantauan tersebut tim juga mencatat keberadaan sekitar 39 spesies satwa lain di dalam kawasan. Di antaranya rusa, kijang, kancil, napu, babi berjanggut, tapir, hingga beruang madu, yang menunjukkan tingginya tingkat keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Hutan Harapan sendiri merupakan kawasan hutan hujan dataran rendah seluas sekitar 98.555 hektare yang menjadi proyek restorasi ekosistem pertama di Indonesia. Kawasan ini dikelola untuk mengembalikan fungsi hutan alami sekaligus menjaga habitat satwa yang terancam punah.
Pihak pengelola menyebutkan bahwa proses pemantauan masih terus berlangsung dan hasil analisis lanjutan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai populasi harimau sumatra di dalam kawasan tersebut.
“Proses masih berjalan di lapangan, termasuk analisis data kamera jebak. Harapannya nanti bisa dirilis hasil lengkap mengenai keberadaan dan jumlah individu harimau di kawasan ini,” ujar Eko.
Sumber:Antara







