Calon Pengantin Diajarkan Kelola Keuangan, Ini Prinsip yang Ditekankan Bimwin

Calon Pengantin Diajarkan Kelola Keuangan, Ini Prinsip yang Ditekankan Bimwin

Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimbingan Perkawinan.

WARTAFLASH.COM,MEDAN – Instruktur Nasional Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin), Nurmey Nurul Chaq, menegaskan bahwa pengelolaan kebutuhan keluarga idealnya dilakukan berdasarkan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf serta musyawarah antara suami dan istri.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimwin di Medan. Menurut Nurmey, pendekatan dialog dan kesepakatan bersama penting untuk memastikan kebutuhan keluarga dapat terpenuhi secara adil sesuai kemampuan finansial.

Ia menjelaskan, mu’asyarah bil ma’ruf menekankan hubungan suami istri yang dibangun atas dasar saling menghormati, memahami, dan memperlakukan pasangan dengan baik. Sementara itu, musyawarah menjadi mekanisme pengambilan keputusan, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga.

“Jika pendapatan terbatas, maka kebutuhan pokok harus didahulukan dibanding keinginan,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Nurmey juga menekankan pentingnya pemahaman skala prioritas bagi calon pengantin. Kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, hingga tabungan dan investasi harus menjadi prioritas utama. Setelah itu, baru diikuti pemenuhan kewajiban seperti cicilan produktif, tagihan, dan kebutuhan ibadah.

Tahap berikutnya mencakup dana darurat, pengembangan diri, serta kebutuhan rekreasi yang disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Adapun pengeluaran untuk gaya hidup ditempatkan pada prioritas terakhir.

Ia menilai, penyusunan prioritas tersebut penting untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga agar terhindar dari kesulitan di masa depan.

Dalam program Bimwin Kementerian Agama, calon pengantin juga dibekali kemampuan mengenali kebutuhan dasar dan non-dasar, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyusun perencanaan keuangan keluarga secara matang.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan indikator kesehatan keuangan keluarga. Di antaranya, ketersediaan dana darurat minimal dua kali pengeluaran bulanan, kebiasaan menabung minimal 10 persen dari penghasilan, serta pengendalian cicilan agar tidak melebihi 30 persen pendapatan.

“Jika ketiga indikator ini terpenuhi, maka kondisi keuangan keluarga dapat dikatakan sehat,” jelasnya.

Nurmey juga mengingatkan pentingnya pola hidup sederhana serta menghindari perilaku konsumtif agar keluarga lebih stabil secara finansial.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Jaja Zarkasyi, menyebut Bimwin sebagai program strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga sejak sebelum pernikahan.

Ia menegaskan bahwa faktor ekonomi masih menjadi salah satu penyebab utama konflik rumah tangga, sehingga literasi keuangan perlu diberikan sejak awal kepada calon pengantin.

“Bimwin tidak hanya mempersiapkan pernikahan, tetapi juga membekali keterampilan hidup berkeluarga, termasuk pengelolaan keuangan yang sehat,” ujarnya.

Melalui pembekalan tersebut, diharapkan terbentuk keluarga yang lebih harmonis, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *