BGN Akui Kelalaian SOP dalam Kasus Keracunan Program MBG di Surabaya

Ratusan siswa di Surabaya keracunan MBG. (CNN Indonesia/Farid)
WARTAFLASH.COM,SURABAYA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan tidak adanya pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi salah satu kendala dalam penanganan kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya.
Perwakilan BGN, Kusmayanti, mengatakan absennya pengawas membuat proses penelusuran sumber kerusakan makanan menjadi sulit dilakukan. Pihaknya tidak dapat memastikan apakah makanan sudah bermasalah sejak distribusi bahan baku atau justru saat proses pengolahan di dapur.
Menurut Kusmayanti, investigasi juga terkendala karena sampel makanan yang seharusnya digunakan untuk pemeriksaan laboratorium mengalami kerusakan sebelum tim kesehatan datang.Dikutip dari CNN
Ia menjelaskan sampel makanan sempat dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa prosedur penyimpanan yang sesuai. Seharusnya, makanan tetap disimpan dalam kondisi dingin menggunakan cooler box agar kualitas sampel tetap terjaga.
“Akibat penanganan yang tidak sesuai, sebagian besar sampel rusak dan hanya daging yang masih bisa diperiksa lebih lanjut,” ujarnya.
Kasus ini menjadi insiden keracunan pertama dalam pelaksanaan program MBG di Surabaya. BGN pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut.
Kusmayanti menyebut peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) dalam program MBG dapat diperketat, terutama terkait pengawasan keamanan pangan dan penanganan sampel makanan.
“Kami meminta maaf atas kejadian ini dan akan menjadikannya pelajaran agar pengawasan ke depan lebih maksimal,” katanya.
Sebelumnya, ratusan siswa di Surabaya dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Kasus tersebut kini masih dalam penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak terkait.







