Dari Marcos-Duterte ke Prabowo-Gibran, Akankah Koalisi Pemenang Bertahan

Dari Marcos-Duterte ke Prabowo-Gibran, Akankah Koalisi Pemenang Bertahan

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, 11 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

WARTAFLASH.COM,JAKARTA – Perubahan konstelasi politik kerap menghadirkan kejutan. Aliansi yang terlihat solid saat meraih kemenangan tidak selalu mampu bertahan ketika kekuasaan telah berada di tangan. Fenomena tersebut kini menjadi bahan perbincangan setelah hubungan Presiden Filipina Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte mengalami keretakan, meski keduanya sebelumnya memenangkan pemilu melalui koalisi yang sangat kuat.

Perkembangan politik di Filipina kemudian memunculkan pertanyaan serupa di Indonesia. Sejumlah pengamat mulai melihat adanya kemiripan pola antara koalisi Marcos-Duterte dengan kerja sama politik yang mengantarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memenangkan Pilpres 2024.

Kedua koalisi tersebut lahir dari penyatuan kekuatan politik besar yang sebelumnya memiliki basis dukungan berbeda. Di Filipina, keluarga Marcos dan keluarga Duterte berhasil menggabungkan pengaruh politik mereka yang kuat di wilayah masing-masing sehingga menciptakan kekuatan elektoral yang dominan pada Pemilu 2022.

Situasi yang hampir serupa terjadi di Indonesia. Setelah dua kali bersaing dengan Presiden Joko Widodo dalam pemilihan presiden, Prabowo secara bertahap membangun hubungan politik yang lebih dekat dengan pemerintahan saat itu. Langkah tersebut dimulai ketika Prabowo bergabung dalam kabinet sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.

Selama lima tahun berikutnya, komunikasi politik antara kedua pihak terus berkembang. Kedekatan tersebut mencapai titik penting ketika Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo pada Pilpres 2024.

Koalisi yang mempertemukan kekuatan politik Prabowo dan pengaruh elektoral Jokowi itu terbukti efektif. Prabowo membawa pengalaman politik nasional, dukungan partai, serta basis pemilih yang luas. Di sisi lain, Gibran dinilai mampu menarik pemilih yang masih memiliki kedekatan dengan figur Jokowi.

Hasilnya, pasangan Prabowo-Gibran berhasil memenangkan pemilihan dalam satu putaran dengan perolehan suara yang signifikan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai sejarah politik menunjukkan bahwa kemenangan besar tidak selalu menjamin stabilitas hubungan politik dalam jangka panjang. Setelah tujuan utama tercapai, masing-masing kekuatan dalam koalisi biasanya mulai memperjuangkan kepentingan dan agenda politiknya sendiri.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam berbagai diskusi politik belakangan ini. Banyak pihak menilai menarik untuk mengamati apakah hubungan politik antara Prabowo dan keluarga Jokowi akan tetap berjalan harmonis hingga akhir masa pemerintahan atau justru menghadapi dinamika seperti yang terjadi pada aliansi Marcos dan Duterte di Filipina.

Meski saat ini belum terlihat tanda-tanda konflik terbuka, pengalaman politik di berbagai negara menunjukkan bahwa hubungan antara para pemenang pemilu dapat berubah seiring perkembangan kepentingan dan arah kekuasaan yang terus bergerak.

Sumber:Kompas.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *