Pertama di Dunia, Kapal Nirawak Selamatkan Awak Helikopter Apache AS di Oman

Pertama di Dunia, Kapal Nirawak Selamatkan Awak Helikopter Apache AS di Oman

Kapal Nirawak

WARTAFLASH.COM,OMAN – Teknologi sistem tanpa awak kembali menunjukkan peran strategisnya dalam operasi militer modern. Sebuah kapal permukaan nirawak atau Unmanned Surface Vehicle (USV) berhasil membantu penyelamatan dua awak helikopter AH-64 Apache Angkatan Darat Amerika Serikat yang mengalami pendaratan darurat di perairan dekat Oman.

Perusahaan teknologi pertahanan berbasis di Texas, Saronic Technologies, mengungkapkan bahwa USV bernama Corsair miliknya terlibat langsung dalam misi penyelamatan tersebut. Operasi berlangsung setelah insiden yang menimpa helikopter Apache dan berakhir dengan keberhasilan evakuasi kedua awak pada 8 Juni 2026.

Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyampaikan bahwa misi penyelamatan dipimpin oleh Komando Angkatan Laut Pusat AS bersama Divisi Lintas Udara ke-82. Operasi juga mendapat dukungan sejumlah unsur Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS, termasuk Gugus Tugas 59 yang berfokus pada pengoperasian sistem nirawak di wilayah Armada ke-5.

Keterlibatan Corsair menjadi sorotan karena menandai salah satu penggunaan pertama kapal permukaan tanpa awak dalam misi pencarian dan penyelamatan personel militer di lingkungan yang berpotensi berbahaya.Dikutip dari airspace-review.

Dalam operasi tersebut, USV Corsair digunakan untuk menjangkau lokasi awak yang membutuhkan pertolongan dan membawa mereka menuju area yang lebih aman di perairan. Setelah itu, kedua personel dievakuasi menggunakan helikopter menuju lokasi yang aman.

Pemanfaatan wahana tanpa awak dinilai memberikan keuntungan signifikan dibandingkan metode konvensional. Pada operasi penyelamatan di kawasan berisiko tinggi, pengiriman kapal atau pesawat berawak sering kali menempatkan tim penyelamat dalam ancaman tambahan. Kehadiran USV memungkinkan proses evakuasi dilakukan tanpa mengekspos personel lain terhadap potensi bahaya.

Corsair sendiri pada awalnya dikembangkan untuk kebutuhan patroli, pengawasan, serta pengintaian maritim. Meski bukan dirancang khusus sebagai platform pencarian dan penyelamatan, kemampuan navigasi otonom yang dimilikinya membuat kapal ini mampu beroperasi secara efektif dalam berbagai skenario misi.

Kapal tanpa awak tersebut memiliki kecepatan maksimum hingga 35 knot dan jangkauan operasi sekitar 1.850 kilometer. Spesifikasi tersebut memungkinkan Corsair menjalankan misi dalam area laut yang luas dengan tingkat ketahanan operasional yang tinggi.

Keberhasilan misi di Oman menunjukkan bahwa teknologi nirawak tidak hanya berperan dalam pengawasan dan operasi tempur, tetapi juga mulai membuka peluang baru dalam pelaksanaan misi kemanusiaan dan penyelamatan di lingkungan yang berisiko tinggi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *